Manajemen Sekolah


 Bismillahirrahmanirrahim 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh


Alhamdulillah puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmat, rahmat, serta karunia-nya yang diberikan kepada saya dan kepada pembaca terutama nikmat iman, islam serta nikmat sehat wal-‘afiat sehingga saya dapat menulis blog ini.


Baiklah pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah adalah Suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal. Maka dengan demikian ada beberapa faktor manajemen sekolah sebagai berikut:

1.  Faktor Fungsi Pokok Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru serta masyarakat setempat, untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi pokok manajemen tersebut merupakan proses yang berkesinambungan.

Selanjutnya, keempat fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Perencanaan program pendidikan sedikitnya mempunyai dua fungsi utama. Pertama, merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga untuk mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan. Kedua, kegiatan untuk menggerakkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien dan efektif untuk menciptakan tujuan yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Pengawasan dapat diartikan  sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan, merekam, memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat serta memperbaiki kesalahan. Pengawasan merupakan kunci keberhasilan dalam seluruh proses manajemen, perlu dilihat secara komprehensif, terpadu dan tidak terbatas pada hal-hal tertentu.

Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.

Kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi harus memiliki sifat profesional dan manajerial. Mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan untuk menjamin bahwa segala keputusan penting yang dibuat oleh sekolah, didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan. Kepala sekolah khususnya, perlu mempelajari dengan teliti, baik kebijakan dan prioritas pemerintah maupun prioritas sekolah. Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus :

Memiliki kemampuan untuk berkolaborasi (bekerjasama) dengan guru dan masyarakat sekitar sekolah.

Memiliki pemahaman dan wawasan yang luas tentang teori pendidikan dan pembelajaran.

Memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menganalisis situasi sekarang berdasarkan apa yang seharusnya serta mampu memperkirakan kejadian di masa depan berdasarkan situasi sekarang.

Memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengidentifikasikan masalah dan kebutuhan yang berbentuk efektivitas pendidikan di sekolah, dan

Mampu memanfaatkan berbagai tantangan sebagai peluang serta mengkonseptualkan arah baru untuk perubahan.

Pemahaman terhadap sifat profesional dan manajerial tersebut sangat penting agar peningkatan efisiensi, mutu dan pemerataan serta supervisi dan monitoring yang direncanakan disekolah betul-betul untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan kerangka kebijakan pemerintah dan tujuan sekolah.

Manajemen sekolah sebagai proses pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Dengan manajemen sekolah diharapkan kepala sekolah, guru dan personil lain disekolah serta masyarakat setempat dapat melaksanakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, perkembangan zaman, karakteristik lingkungan dan tuntutan global.

Dalam dunia pendidikan, pemberdayaan  merupakan cara yang sangat praktis dan produktif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kepala sekolah (manajer), para guru, dan pegawai. Proses yang ditempuh untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan produktif tersebut adalah dengan membagi tanggung jawab secara profesional kepada para guru. Satu prinsip terpenting dalam pemberdayaan ini adalah melibatkan guru dalam proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab, melalui pemberdayaan itu diharapkan para guru memiliki kepercayaan diri.

Dalam manajemen sekolah, pemberdayaan dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja sekolah agar dapat mencapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien. Pada sisi lain, untuk memberdayakan sekolah harus pula ditempuh upaya-upaya memberdayakan peserta didik dan masyarakat setempat, disamping mengubah paradigma pendidikan yang dimiliki oleh para guru dan kepala sekolah. Para guru dan kepala sekolah perlu lebih dahulu tahu, memahami akan hakikat, manfaat dan proses pemberdayaan merupakan cara untuk membangkitkan kemauan dan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan mengontrol diri dan lingkungannya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan peningkatan kesejahteraan.

Pada dasarnya pemberdayaan terjadi melalui beberapa tahap :

Pertama, masyarakat mengembangkan sebuah kesadaran awal bahwa mereka dapat melakukan tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat keterampilan agar mampu bekerja lebih baik. Melalui upaya tersebut, pada tahap kedua, mereka akan mengalami pengurangan perasaan ketidak mampuan dan mengalami peningkatan kepercayaan diri. Akhirnya, ketiga, seiring dengan tumbuhnya keterampilan dan kepercayaan diri, masyarakat bekerjasama untuk berlatih lebih banyak mengambil keputusan dan memilih sumber-sumbernya yang akan berdampak pada peningkatan mereka.

Sedikitnya terdapat delapan langkah pemberdayaan dalam kaitannya dengan manajemen sekolah, yaitu (1) menyusun kelompok guru sebagai penerima awal atas rencana program pembedayaan; (2) mengidentifikasi dan membangun peserta didik disekolah; (3) memilih dan melatih guru dan tokoh masyarakat yang terlibat secara dalam implementasi manajemen sekolah; (4) membentuk dewan sekolah, yang terdiri dari unsur sekolah, unsur masyarakat dibawah pengawasan pemerintah daerah; (5) menyelenggarakan pertemuan-pertemuan anggota dewan sekolah; (6) mendukung aktivitas kelompok yang tengah berjalan; (7) mengembangkan hubungan yang  harmonis antara sekolah dan masyarakat; (8) menyelenggarakan loka-karya untuk evaluasi.

Untuk keberhasilan tugas kepala sekolah sebagai pemimpin, administrator dan supervisor, haruslah mampu menerapkan sifat-sifat kepemimpinan terhadap stafnya, sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya : “Maka karena rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohon ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal”. (Q.S. Ali Imran:159).

2. Faktor Efektivitas,  Efisiensi dan Produktivitas Manajemen Sekolah

Pembinaan sistem  pendidikan suatu sekolah tidak hanya ditentukan oleh peranan salah satu unit kerja, tetapi oleh semua unit kerja dalam lingkungan sekolah tersebut. Sehubungan dengan itu, keberhasilan implementasi manajemen sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan sedikitnya dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Ketiga dimensi tersebut saling berkaitan antara satu sama lain dan saling pengaruh mempengaruhi. Meskipun demikian, dalam mengukur keberhasilan suatu program atau suatu kegiatan ketiga dimensi tersebut dapat dipisahkan.

Efektivitas, efisiensi dan produktivitas manajemen sekolah harus sejak awal ditetapkan agar dapat diketahui dampaknya sejak dini terhadap pencapaian tujuan pendidikan pada umumnya, khususnya dalam merealisasikan berbagai program sekolah. Dengan demikian sejak awal dapat diperbaiki kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan, sementara kelebihan dan kekuatan dapat dipertahankan. Perbedaan ketiga dimensi tersebut di atas, yaitu :

Faktor Efektivitas Manajemen Sekolah

Dalam memahami efektivitas setiap orang memberi arti yang berbeda, sesuai sudut pandang, dan kepentingan masing-masing. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), manjur atau mujarab, dapat membawa hasil.  Jadi efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Dengan kata lain, efektivitas adalah bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dikemukakan bahwa efektivitas berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu dan adanya partisipasi aktif dari anggota. Dengan demikian, efektivitas manajemen sekolah berarti bagaimana manajemen sekolah berhasil melaksanakan semua tugas pokok sekolah, menjalin partisipasi aktif masyarakat, mendapatkan serta memanfaatkan sumber daya, sumber dana dan sumber belajar untuk mewujudkan tujuan sekolah.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT bahwa orang yang berilmu dan tidak berilmu itu berbeda dalam pandangan Islam.

Artinya: (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az-Zumar: 9).

Faktor Efisiensi Manajemen  Sekolah

Implementasi  manajemen sekolah di samping dilihat dari segi efektivitas juga perlu dianalisis dari segi efisiensi. Efisiensi merupakan aspek yang sangat penting dalam manajemen sekolah karena sekolah umumnya dihadapkan pada masalah kelangsungan sumber dana, dan secara langsung berpengaruh terhadap kegiatan manajemen. Kalau efektivitas membandingkan antara rencana dengan tujuan yang dicapai, efisiensi lebih ditekankan pada perbandingan antara input atau sumber daya dengan output, suatu kegiatan dikatakan efisien jika tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan atau pemakaian sumber daya yang minimal.

Sejalan dengan uraian di atas, Dharma  mengemukakan bahwa: Efisiensi mengacu pada ukuran penggunaan sumber daya yang langka oleh organisasi. Efisiensi juga merupakan  perbandingan antara input dan output, tenaga dan hasil, perbelanjaan dan masukan, biaya serta kesenangan yang dihasilkan.

Keluaran atau output manajemen sekolah adalah segala sesuatu yang dikelola  dan dihasilkan di sekolah, yaitu berapa banyak yang dihasilkan dan seberapa baik sekolah dapat mengelola keluaran, tersebut dapat  beragam perubahan prilaku baik dalam aspek kognitif, psikomotor maupun afektif, pada pengelola sekolah, baik peserta didik, kepala sekolah, guru, maupun pegawai. Di samping itu dapat dilihat dampaknya terhadap masyarakat lingkungan.

Perubahan kognitif berbentuk perubahan aspek intelektual yang terjadi dalam aspek pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Perubahan-perubahan itu berjenjang artinya yang disebut terdahulu lebih rendah tingkatannya dibanding yang disebut kemudian. Misalnya, perubahan pengetahuan hapalan lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan perubahan pemahaman, perubahan pemahaman lebih rendah dibanding dengan penerapan. Perubahan psikomotor, berupa perubahan keterampilan diawali dengan adanya perubahan pengetahuan. Misalnya, dari tidak terampil menjadi terampil. Perubahan afektif merupakan hasil belajar  yang berupa perubahan sikap seseorang. Misalnya dari sikap masa bodoh menjadi peduli. Sementara dampak terhadap lingkungan bisa positif dan bisa negatif, dampak positif apabila dapat mengangkat lingkungan serta harkat dan martabat masyarakat; dan negatif apabila merusak lingkungan serta menurunkan harkat dan martabat masyarakat.

Selain dianalisis dari komponen input dan output, tingkat efisiensi bisa dianalisis dari proses pendidikan, yang merupakan interaksi antara faktor-faktor manusiawi dengan faktor-faktor non manusiawi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan waktu yang disediakan. Dalam hal ini, sesuatu dikatakan efisien jika melakukan banyak proses atau kegiatan dalam waktu yang relatif singkat.

Faktor Produktivitas Manajemen Sekolah

Konsep produktivitas pada awalnya dikemukakan oleh Quesney, seorang ekonom Perancis pada tahun 1776. Oleh karena itu, wajar jika pengertian produktivitas senantiasa dikaitkan dengan nilai ekonomis  suatu kegiatan, yakni bagaimana mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan menggunakan sumber daya dengan dana sekecil mungkin.

Produktivitas pendidikan dapat ditinjau dari tiga dimensi sebagai berikut :

Meninjau produktivitas sekolah dari segi keluaran administratif, yaitu seberapa besar dan seberapa baik layanan yang dapat diberikan dalam suatu proses pendidikan baik oleh guru, kepala sekolah, maupun pihak lain yang berkepentingan.

Meninjau produktivitas dari segi keluaran peubahan prilaku, dengan melihat nilai-nilai yang diperoleh peserta didik sebagai suatu gambaran dari prestasi akademik yang jelas dicapainya dalam periode belajar tertentu disekolah.

Melihat produktivitas sekolah dari keluaran ekonomis yang berkaitan dengan pembiayaan layanan pendidikan di sekolah. Hal ini mencakup “harga” layanan yang diberikan (pengorbanan atau cost) dan “perolehan” (earning) yang ditimbulkan oleh layanan itu atau disebut “peningkatan nilai balik”.

Hanya ini yang dapat saya tuliskan, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. 

Saya akhiri wassalamu’alaikum warahmarullahi wabarokatuh..

Sumber bacaan : 

Engkoswara, 2001, Paradigma Manajemen Pendidikan, Menyongsong Otonomi daerah, (Bandung: Yayasan Atmal Keluarga).

Supardi, 1988 Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan, (Jakarta: P2LPTK). 

Soedjadi,1995 F. X, Analisis Manajemen Modern, (Jakarta: Balai Pustaka).


Komentar